Tiga Jagoan Pesisir Kulonprogo yang Siap Menaklukkan Dunia




Puluhan ibu-ibu duduk melingkar. Beberapa sibuk di depan meja. Mereka semua bermasker tapi tetap bisa menciptakan suasana cerah-ceria. Di hadapan mereka puluhan kilo buah kecil merah membara, daging cumi, teri, tomat dan aneka jenis lada. Para ibu itu sedang meracik tiga jagian desa mereka. Namanya Sambal Teri, Cumi dan Original.

Itulah salahsatu kesibukan para ibu di Desa Karangwuni, Wates, Kulonprogo. Mereka sedang meracik resep tiga sambal andalan untuk disulap menjadi produk kemasan. Produk sambal mereka ini sudah siap menjelajah nusantara, mengantarkan resep sambal turun-temurun yang selama ini menemani acara makan keluarga warga Karangwuni. Karangwuni sedang berbagi cita rasa agar semua orang bisa menikmati hebatnya sensasi pedas yang mereka setiap hari rasakan.

Bagi desa ini sambal adalah bagian hidup sehari-hari. Tak lengkap jika tak ada sambal di atas meja, begitu kira-kira. Tapi lebih dari itu, bagi warga desa ini sambal adalah penopang hidup, bukan hanya sekedar pencipta rasa pedas saja. Soalnya, sebagian besar warga adalah petani cabai. Nah, untuk meningkatkan nilai jual cabai mereka, kini para ibu turun gunung, menciptakan produk sambal yang telah ditahbiskan sebagai produk unggulan desa mereka.

Mengolah cabai menjadi produk sambal aneka rasa sesungguhnya bukan ide baru dibenak para ibu di Karangwuni. Hanya saja selama ini seringkali sebelum mereka sempat menyiapkan bahan baku, para tengkulak telah lebih dulu menyergap dan membeli panenan mereka. Maklum, cara ini memang bisa mendatangkan uang dalam sekejab. Truk datang, uang tiba.

Masalahnya adalah, seringkali hasil yang diterima para petani sungguh jauh panggang dari api alias tak sesuai harapan. Meski di luar sana harga cabai kadang melesat tinggi menuju langit tetapi aneh bin ajaib para petani tetap saja merugi. Jadi yang untung siapa? Anda pasti bisa menebaknya.

Nah, mimpi buruk harga yang tak juga berpihak pada petani inilah yang setahun lalu menguatkan tekat para ibu untuk memulai program prestisius mereka. Didukung Pemerintah Desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Binangun Mitra Sejahtera Desa Karangwuni, para ibu lalu memulai sejarah baru bagi desa mereka.

“ Desa Karangwuni sepakat menjadikan Cabai sebagai produk unggulan desa karena sebagian warga kami memang petani cabai. Nah, untuk meningkatkan hasil dari pertanian cabai ini kami meracik sambal kemasan asli Karangwuni,” ujar Marsidah, Kasi Pembangunan Desa Karangwuni.BUMDes, ujar Marsidah, menjadi lembaga yang menangani program ini.

Akhir tahun 2020 hingga awal 2021 menjadi tonggak yang penting bagi lahirnya produk unggulan Karangwuni. Beberapa kali BUMDes mengumpulkan para ibu, mengundang pelatih dari berbagai keahlian untuk meningkatkan kemampuan warga Karangwuni dalam hal meracik sambal yang tahan lama.

Ariesty wardoyo, Direktur BUMDes Binangun Mitra Sejahtera menyatakan, warga telah memiliki beberapa resep yang dijagokan. “ Tapi tetap kami harus belajar untuk meracik sambal yang tahan lama, aman, higienis, sehat dan siap bersaing dengan produk lain. Soalnya, pemain sambal tidaklah sedikit di negeri ini,” ujar Ariesty. Rombongan BUMDes bahkan telah pula berkunjung ke pabrikan sambal sekaligus pengusaha rumah makan yang selama ini menggunakan sambal kemasan sebagai bagian dari bisnis kuliner mereka. “ Kami tidak main-main mempersiapkan semua ini,” ujar Ariesty.

Bukan hanya mengutak-utik resep saja. Karangwuni juga membangun Tim Khusus yang bertugas melakukan promosi online agar produk ini cepat mendapat respon pasar. “ Kami membangun website dan menggunakan media sosial untuk mendongkrak penjualan,” katanya.

Dukungan Pemerintah Desa Karangwuni juga luar biasa. Pemerintah Desa bahkan membuat video profile desa yang di dalamnya mendorong sepenuhnya desa mereka menjadi pusat produksi sambal. Bekerjasama dengan kelompok anak muda yang bergerak di bidang promosi digital, Desa Karangwuni bergerak cepat melahirkan video profil dan mengukuhkan desa mereka sebagai Desa Terpedas di Dunia.

Setelah melakukan serangkaian persiapan, pelatihan dan berkali-kali ujicoba, akhirnya tiga jagoan lahir. Mereka adalah Sambal Teri, Sambal Cumi dan Original. Inilah Tiga Jagoan Karangwuni yang sedang berproses menaklukkan pasar dengan cita rasa pedas yang mereka tawarkan.

Pemilihan sambal sebagai produk unggulan desa tentu saja terbilang unik. Bagaimana tidak, ketika desa lain sibuk membangun aneka cara menjadi desa wisata dan sebagainya, Karangwuni dengan percaya diri memutuskan sambal sebagai jagoan mereka. Tapi, siapa sih yang tak suka sambal, siapa sih yang tak butuh rasa pedas, siapa sih yang bisa lepas dari cabai?

Jangan salah, cabai, sambal dan rasa pedas adalah tiga hal yang tak boleh lupa dalam daftar belanjaan para ibu rumah tangga setiap hari. Sambal seperti kopi, semua orang suka semua orang bisa menikmati. Bahkan lebih dari kopi karena tidak semua orang minum kopi. Lain halnya dengan sambal, rasanya tidak ada orang yang tidak suka pada rasa membakar lidah yang satu ini.

Berderet alasan itulah yang membuat Karangwuni mantap jiwa memilih canai sebagai produk unggulan desa dan menjadikan sambal sebagai produk yang akan dipasarkannya. Soalnya pula, di desa ini bahan baku bukan lagi masalah. Soalnya, selain desa ini masih ada desa-desa lain yang juga menanam cabai dan bisa menjadi pendukung bahan baku mereka.

Akankah Sambal Karangwuni Mendunia?

Target menuju dunia sesungguhnya bukan sesuatu yang terlalu muluk. Sebab, desa ini bersebelahan dengan Bandara Internasional Yogyakarta yang sejak akhir 2020 lalu telah mulai beroperasi 24 jam penuh. Siapapun tahu, bandara internasional adalah pintu gerbang dari semua orang di seluruh penjuru dunia yang ingin datang ke Yogyakarta atau Jawa Tengah.

Aktivitas bandara yang 24 jam itu tentu saja menciptakan keramaian luar biasa. Bayangkan saja jika setiap 15 menit sekali pesawat turun dan naik. Kalikan saja jumlah penumpang dalam sehari. Coba hitung pula berapa ribu orang yang hilir mudik menjemput dan mengantar para penumpang. Belum lagi pegawai bandara sendiri yang berjumlah ribuan dalam tiga shift.

Ini belum termasuk keramaian dari hotel-hotel besar yang kini mulai bertumbuhan di sepanjang jalan depan bandara. Jangan lupa, bandara ini juga memiliki layanan kereta api sehingga menjadi sebuah tempat terpadu bagi orang yang datang dan pergi.

Inilah yang membuat Karangwuni memacu diri menuju dunia, melalui orang-orang yang datang dan pergi di sana. Karangwuni ingin, para jagoannya menjadi oleh-oleh khas Jogja yang unik bagi semua orang ketika kembali ke negara mereka. Apakah ini terlalu muluk? Tidak sama sekali! Sangat tidak muluk sama sekali. (adji/karangwuni)

 

Berita terkait