Pingin Tahu Desa Paling Pedas di Dunia, Inilah Kisahnya




Rasa cinta yang mendalam pada tanaman cabai membuat cabai bagaikan nafas bagi warga desa ini. Menanam dan menjual cabai adalah mata pencaharian mereka selama bertahun-tahun, turun-temurun. Cabe juga menjelma menjadi aneka sambal yang selalu terhidang di atas meja malan setiap rumah di sana.

Namanya Desa Karangwuni,Wates, Kulonprogo, Yogyakarta. Terletak di hampir ujung selatan barat Kabupaten Kulonprogo. Desa ini berbatasan langsung dengan laut selatan yang dikenal memiliki ombak yang besar. Jadi, tak perlu heran jika suara gemuruh ombak menemani kehidupan warga sehari-hari.

Meski berada di pesisir tapi sebagian besar warga Karangwuni tak pergi melaut. Melainkan memilih bercocok tanam. Cabai adalah komoditas utama yang menjadi andalan mereka. Tak perlu kaget makanya, begitu masuk ke kampung-kampung ini, sepanjang mata memandang, lautan tanaman cabai akan menyambut Anda sekalian.

Nah, saking cintanya pada cabai, warga tetap saja menanam cabai meski seringkali mereka merugi ketika panen tiba. Bukan rahasia lagi, harga cabai seringkali naik-turun dengan cepat. Anehnya, meski sedang naik tinggi, tetap saja perolehan petani hanya sedikit. Tapi apa mau dikata, cabe tetap dicinta.

Melihat ini, Pemerintah Desa Karangwuni berpikir keras. Lalu pada 2020 lalu Pemerintah Desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Binangun Mitra Sejahtera Karangwuni memutuskan sebuah program cerdas sekaligus unik. Mereka mengangkat Cabai menjadi Produk Unggulan Desa. Desa ini siap mengembangkan produk cabe menjadi luar biasa. Caranya?

BUMDes menggerakkan para ibu maestro pembuatan sambal untuk meracik resep sambal mumpuni. Nah, hasilnya racikan itu akan digunakan untuk menciptakan produk sambal. Sambval-sambal itu diolah dengan standar hiegienitas tinggi untuk dipasarkan ke segala penjuru. Beragam tahap dilakukan Karangwuni demi melahirkan produk sambal yang layak bertarung di pasar.

Untuk menggawangi pemasaran, Karangwuni membentuk Tim Khusus Pemasaran. Tim ini akan menggunakan teknologi komunikasi digital sebagai senjata utama. Mereka membuat website dan memanfaatkan media sosial sebagai alat pemasaran produk mereka. Berbagai langkah untuk pemasaran online ini bahkan sudah dimulai sejak Desember lalu.

Bukan hanya itu, untuk membangun branding atas produk yang akan mereka luncurkan, Desa ini telah sukses membuat sebuah video pendek yang berjudul Desa Terpedas di Dunia. Nah, video unik inilah yang kemudian menyebar dengan cepat. Dalam dua hari saja video Karangwuni telah ditonton lebih dari 2000 orang. Padahal itu adalah video pertama dari akun Youtube yang dibuat. Sejak itulah Karangwuni dikenal sebagai Desa Paling Pedas di Dunia.

Tapi sebutan itu memang layak disandang Karangwuni. Soalnya, selain menghasilkan cabe dan menjadi penyangga ekonomi utama warga. Warga Karangwuni juga menjadikan Cabai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Jika Anda pergi ke rumah mereka, dipastikan akan selalu ada sambal di atas meja makan mereka.

Sambal adalah bagian dari menu yang harus ada di kampung ini. Ada aneka jenis sambal. Makanya, salahsatu yang ingin dilakukan Karangwuni adalah menjadikan aneka jenis sambal yang menemani kehidupan warganya selama ini bakal diperkenalkan kepada semua orang. Siapa sih yang tak suka sambal?

Sst, ini rencana rahasia. Jadi, saat ini BUMDes Karangwuni sedang menggerakkan para maestro kuliner asli desa untuk meracik sambal asli kampung ini. Resep-resep unggul turun-temurun itu nanti akan dijadikan standar rasa dan kualitas sambal yang akan menjadi produk unggulan desa ini.

Bakal ada dua pilihan untuk bisa mendapatkan nikmatnya Smabal Karangwuni. Pertama, datanglah ke desa ini dan Anda akan mendapatkan warung makan dengan aneka sambal sebagai menu andalannya. Cara kedua, buka Google dan tuliskan Sambal Pansella. Pansella adalah nama yang dipilih Karangwuni untuk menamai aneka produknya. Coba saja, maka Anda akan tahu kenapa Desa ini layak disebut Desa Paling Pedas di Dunia. (adji/karangwuni)

 

 

Berita terkait