Karangwuni, Merubah Nasib Desa Bermodal Sambal




Selama ratusan tahun kampung ini hanya ditemani suara deburan ombak pantai selatan Jawa yang dikenal ganas. Tetapi sejak pertengahan 2019 lalu, ada suara gemuruh membelah angkasa setiap beberapa menit sekali. Itu adalah suara pesawat yang turun naik melalui bandara tepat di samping barat desa ini. Kehadiran bandara segera membuat desa ini bersiap melakukan banyak hal. Apa sajakah itu?

Namanya Desa Karangwuni, Kecamatan Wates, Kulonprogo, Yogyakarta. Terletak di ujung selatan bagian barat kabupaten ini membuat Karangwuni berbatasan langsung dengan pantai selatan alias Samudera Hindia. Selain dekat Bandara Internasional Yogyakarta yang beroperasi 24 jam penuh itu, Karangwuni juga berada tepat di sebelah Obyek Wisata Pantai Glagah, salahsatu destinasi wisata pantai utama Yogyakarta.

Letak bandara yang tepat berada di seberang sungai desa ini membuat Karangwuni menjadi salahsatu desa yang memiliki pemandangan pesawat mendarat dengan anggun sekaligus menukik membelah angkasa ketika mengudara. Atraksi pemandangan pesawat ini kelak akan menjadi salahsatu wisata unik bagi anak-anak di Taman Desa Karangwuni.

Ada sederet kehebatan bandara baru ini. Bandara ini memiliki fasilitas yang jauh lebih hebat dibanding Bandara Adi Soetjipto alias bandara lama Yogyakarta. Landasan pacunya sepanjang 3.250 meter. Bandingkan dengan Adi Sutjipto yang panjang landasan pacunya hanya 2.250 meter.

Panjang landasan bandara baru Yogyakarta ini sudah cukup untuk pendaratan Airbus A380 yang berkapasitas 372 penumpang itu. Juga pesawat Boeing 747 yang sanggup membawa 600 penumpang sekali terbang. Sekedar catatan, dua pesawat super besar itu selama ini hanya mampu mendarat di beberapa bandara besar saja di seluruh dunia. Kini kedua raksasa besi itu bisa dengan anggun mendarat di sini.

Dengan kapasitas seperti ini maka bandara yang beroperasi 24 jam penuh ini sudah tentu akan menjadi salahsatu bandara paling penting di Indonesia tercinta. Sudah tentu pula akan menjadi pintu masuk bagi kedatangan ribuan orang per hari, yang sebagian adalah para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang datang untuk menikmati keindahan Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya.

Jadi, bandara dan daerah sekitarnya sesungguhnya adalah wajah pertama yang dilihat semua orang yang menginjakkan kaki di Jogja melalui bandara. Tapi yang lebih penting adalah, bandara ini menciptakan keramaian karena ada ribuan orang berkerumun di Bandara mulai dari para pegawai PT Angkasa Pura yang bekerja di bandara, para pekerja maskapai, para penumpang pesawat yangd atang dan pergi serta para pekerja transportasi dan berbagai jasa lain yang berpusat pada layanan bagi semua orang yang turun naik pesawat di sana.

Banyak orang berkumpul, banyak duit pula berada. Tak perlu kaget jika jalan raya depan gerbang bandara kini sedang menuju perubahan luar biasa. Beberapa hotel besar sedang membangun diri, belum lagi restoran, kafe dan beragam tempat untuk menciptakan kenyamanan bagi semua orang yang menggunakan moda pesawat terbang melalui bandara. Semua perubahan itu terjadi karena keramaian baru bandara.

Bagaimana dengan Karangwuni?

Kehadiran bandara bertarat internasional tentu saja akan membawa banyak dampak bagi desa berpenduduk lebih dari 2000 jiwa dan memiliki enam dusun ini. Soalnya sudah pasti sebuah bandara apalagi dengan kapasitas internasional seperti ini akan menciptakan banyak perubahan di kawasan sekitarnya. Termasuk tentu saja Karangwuni.

Peluang ini langsung direspon Pemerintah Desa Karangwuni. Desa Karangwuni langsung menyusun konsep besar untuk menyambut perubahan jaman yang sedang berlangsung di kawasan tempatnya berada.

Sekretaris Desa Karangwuni Retno Sri Widati menyatakan, desanya fokus pada pemberdayaan ekonomi warga desa. “ Ada banyak peluang baru yang bakal muncul sejak beroperasinya bandara. Kami terus melakukan diskusi untuk emmbaca dan merespon peluang-peluang ini,” katanya.

Salahsau yang dilakukan Karangwuni adalah mengangkat Cabai sebagai produk unggulan desa. Soalnya desa ini memang penghasil cabai dan sebagian besar warganya bergantung hidup dari buah berasa pedas itu. “ Hanya saja selama ini seringkali para petani cabai merugi ketika panen tiba soalnya rantai distribusi cabai yang lebih banyak dikuasai Middle Man seperti tengkulak. Ini harus kami sikapi dengan merancang beberapa program,” kata Retno. Apa saja programnya?

Pertama, Karangwuni menetapkan cabai sebagai produk unggulan desa. Pekerjaan besar ini akan ditangani BUMDes sebagai lembaga usaha milik desa. Tapi BUMDes tidak akan menjual cabai dalam bentuk cabai mentah. Melainkan akan disulap menjadi aneka produk turunan yakni aneka sambal.

Setidaknya tiga jenis sambal yang bakal dilempar ke pasar yakni Sambal Cumi, Sambal Teri dan Sambal Original. Ketiganya sudah melalui beberapa kali pelatihan, ujicoba dan bahkan uji daya tahan dalam kemasan yang sudah siap jual. Memasuki 2021 ini, tiga jenis sambal itu siap dilempar pasar.

Bahan baku yang melimpah akan sangat mendukung rencana produksi sambal ini. Soalnya, selain Karangwuni, beberapa desa lain di sepanjang tepian pantai selatan ini juga menjadikan cabai sebagai tanaman yang dikembangkan para petani. Ini adalah salahsatu langkah yang sedang dijalankan Karangwuni yang bakal menjadi langkah pembuka beberapa program yang dirancang desa ini ke depan. (adji/desahub)

 

Berita terkait